Sejarah Kendal
 

Friday, November 24, 2006



Sejarah Kendal

Nama Kendal diambil dari nama sebuah pohon yakni Pohon Kendal. Pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 - 1546 M yaitu pada masa Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521 M, Sultan Trenggono pernah memerintah Sunan Katong untuk memesan Pusaka kepada Pakuwojo.
Peristiwa yang menimbulkan pertentangan dan mengakibatkan pertentangan dan mengakibatkan kematian itu tercatat dalam Prasasti. Bahkan hingga sekarang makam kedua tokoh dalam sejarah Kendal yang berada di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu itu masih dikeramatkan masyarakat secara luas. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil menikmati pemandangan pohon Kendal yang nampak "sari" itu, Beliau menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut "Kendalsari". Pohon besar yang oleh warga masyarakat disebut-sebut berada di pinggir Jln Pemuda Kendal itu juga dikenal dengan nama Kendal Growong karena batangnya berlubang atau growong.

Dari kisah tersebut diketahui bahwa nama Kendal dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah atau daerah setelah Sunan Katong menyebutnya. Kisah penyebutan nama itu didukung oleh berita-berita perjalanan Orang-orang Portugis yang oleh Tom Peres dikatakan bahwa pada abad ke 15 di Pantai Utara Jawa terdapat Pelabuhan terkenal yaitu Semarang, Tegal dan Kendal. Bahkan oleh Dr. H.J. Graaf dikatakan bahwa pada abad 15 dan 16 sejarah Pesisir Tanah Jawa itu memiliki yang arti sangat penting.
Sejarah Berdirinya Kabupaten Kendal

Adalah seorang pemuda bernama Joko Bahu putra dari Ki Ageng Cempaluk yang bertempat tinggal di Daerah Kesesi Kabupaten Pekalongan. Joko Bahu dikenal sebagai seorang yang mencintai sesama dan pekerja keras hingga Joko Bahu pun berhasil memajukan daerahnya. Atas keberhasilan itulah akhirnya Sultan Agung Hanyokrokusumo mengangkatnya menjadi Bupati Kendal bergelar Tumenggung Bahurekso. Selain itu Tumenggung Bahurekso juga diangkat sebagai Panglima Perang Mataram pada tanggal 26 Agustus 1628 untuk memimpin puluhan ribu prajurit menyerbu VOC di Batavia. Pada pertempuran tanggal 21 Oktober 1628 di Batavia Tumenggung Bahurekso beserta ke dua putranya gugur sebagai Kusuma Bangsa. Dari perjalanan Sang Tumenggung Bahurekso memimpin penyerangan VOC di Batavia pada tanggal 26 Agustus 1628 itulah kemudian dijadikan peninggalan sejarah lahirnya Kabupaten Kendal.
Pemerintahan Kabupaten Kendal, Sekarang dan Tempe Doeloe.

Kaliwungu pernah berjaya sebagai pusat pemerintahan sejak awal berdirinya Kabupaten Kendal. Namun karena keadaan perpolitikan di pusat Mataram pada waktu itu dan adanya pertimbangan untuk perkembangan pemerintahan, menyebabkan pusat pemerintahan tersebut pindah ke kota Kendal hingga sekarang. Sehingga akhirnya Kaliwungu hanya digunakan untuk tempat tinggal kerabat Ayahanda Bupati yang sering disebut sebagai Kasepuhan. Sedangkan pemerintahannya dijadikan sebagai daerah administrasi yaitu Distrik Kaliwungu.
Tugas kita memelihara Budaya Bangsa dan Seni Silat
 

Friday, November 03, 2006



Sungguh menyedihkan pabila budaya kita diperlecehkan,anak Melayu hilang budaya dan adatnya.Budaya asing diagung-agungkan.Sedangkan kita mempunyai budaya dan adat kita tersendiri.Hilang maruh diri, hilang maruah bangsa. Jangan satu hari anak Melayu tak kenal adat dan budayanya.Ini yang terjadi pada Seni Silat.

Silat telah diterima oleh orang Barat,mengapa anak Melayu tidak menilainya.Bagi mereka mempelajari silat membuang masa tiada faedahnya.Secara peribadi silat banyak mengubah gaya hidup saya.Mengajar saya erti kehidupan, mengajar saya erti kesabaran mengajar saya erti alam “fitrah’, mengajar saya menjadi hamba terhadap yang dipimpin.Mengajar saya menjadi manusia yang bertamadun.

Bangsa yang bertamadun mempunyai budaya pahlawannya yang tersendiri.Di dunia pahlawan ini terserlah dengan seni-seni beladiri bangsa tersebut.Bangsa Jepun dengan budaya samurainya mempunyai pelbagai seni beladiri seperti karate,judo dan aikido.Seni beladiri wushu pula telah muncul sebagai lambang kepahlawanan dan kerohanian jatidiri bangsa Cina yang mempunyai unsur yang tinggi kini telah diterima dunia.

Tamadun Hindu pula mempunyai budaya kepahlawanan yang tertua dalam catatan sejarah manusia.Seni beladiri kalaripayat dari selatan India kini telah meluas perkembangannya di seluruh dunia.

Seni Silat pula mempaparkan budaya pahlawan bangsa Melayu.Terkandung dalam budaya pahlawan ini unsur-unsur agama, bahasa, adat resam, kesenian dan sejarah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi seterusnya.Adapun unsur-unsur inilah yang menjadikan seni silat sebagai panji jatidiri bangsa Melayu.


Semangat pahlawan merupakan perkara utama yang ingin diwariskan oleh guru ataupun pendeta kepada anak-anak muridnya.Semangat yang mulia ini hanya boleh dihayati oleh jiwa yang mulia.Maka penyucian jiwa menjadi matlamat pendidikan yang teras dalam ilmu persilatan.Amalan penyucian jiwa dicernakan dalam gerak-gerak silat yang merangkumi unsur zahir dan batin “rohani”.

Fahaman mengenai jiwa apatah lagi mengenai kaedah untuk menyucikan sememangnya termasuk dalam persoalan pandangan alam dan agama.Tidak hairanlah sejak dahulu kala lagi ilmu persilatan dipelopori oleh unsur-unsur agama yang tinggi.Pada awalnya pandangan alam agama Hindu telah mencorak ilmu persilatan.Apabila Islam mula bertapak di nusantara Melayu (seawal tahun 1039 Masihi mengikut batu bersurat di Negara Melayu Champa) berlaku transformasi budaya.Falsafah dan kaedah amalan ilmu persilatan kini ditempa dengan pahaman-pahaman asas Islam.

Kemuliaan nilai agama dalam diri pahlawan Melayu ialah akhlak mulia yang terbentuk.Keupayaan seni Silat untuk membentuk semangat kepahlawanan bangsa bertambah kuat lagi apabila sumber ilham penyusunannya ialah alam Melayu itu sendiri.Maka seni tampak seta gerak-geri silat itu adalah untuk yang hanya wujud dalam alam Melayu ini.

Seni Silat dengan segala unsur rohani budaya Melayu yang dicernakan dengan gerak-gerak jasmani dapat membantu pengamalnya mencapai beberapa ciri kehidupan yang sihat sejahtera.

“Tegak adat perpagar adat,tegak suku berpagar suku, tegak kampong berpagar kampong, tegak negeri berpagar negeri, tegak bangsa berpagar bangsa.”

Orang yang hidup bermasyarakat perlu memelihara atau menjaga serta membela masyarakatnya.Begitu juga orang yang berkampung, bernegeri dan berbangsa.

Wassalam.